• 12 Mei 2026
  • 4 Pembaca

Penyebab Bayi Sering Gumoh, Normal atau Tidak

Banyak orang tua, terutama yang baru pertama kali memiliki bayi, sering merasa khawatir ketika si kecil gumoh setelah menyusu. Padahal, gumoh merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada bayi, khususnya di usia beberapa bulan pertama kehidupan.

Namun, kapan gumoh dianggap normal dan kapan perlu diperiksakan ke dokter? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Gumoh?

Gumoh adalah keluarnya sedikit isi lambung bayi melalui mulut setelah menyusu. Biasanya, gumoh berbentuk cairan susu yang keluar tanpa tekanan dan tidak membuat bayi merasa kesakitan.

Kondisi ini berbeda dengan muntah. Pada muntah, isi lambung keluar dengan lebih kuat atau menyemprot dan sering kali membuat bayi rewel atau tidak nyaman.

Mengapa Bayi Sering Gumoh?

Pada bayi, otot yang berfungsi menahan makanan di lambung masih belum berkembang sempurna. Akibatnya, susu lebih mudah naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut.

Selain itu, ada beberapa faktor yang membuat bayi lebih sering gumoh, antara lain:

1. Terlalu Banyak Menyusu

Perut bayi masih sangat kecil. Jika bayi menyusu terlalu banyak atau terlalu cepat, lambung dapat menjadi penuh sehingga susu lebih mudah keluar kembali.

2. Menelan Udara Saat Menyusu

Saat bayi menangis atau posisi menyusu kurang tepat, udara bisa ikut tertelan bersama susu. Udara yang terperangkap di lambung dapat memicu gumoh.

3. Posisi Bayi Setelah Menyusu

Menggendong atau memposisikan bayi terlalu aktif setelah menyusu dapat menyebabkan isi lambung naik kembali.

4. Sistem Pencernaan Belum Matang

Pada usia 0–6 bulan, sistem pencernaan bayi masih berkembang sehingga gumoh menjadi hal yang cukup sering terjadi.

Kapan Gumoh Masih Dianggap Normal?

Gumoh umumnya masih normal apabila:

  • Bayi tetap aktif dan tampak nyaman
  • Berat badan naik sesuai usia
  • Gumoh hanya berupa sedikit cairan
  • Tidak disertai demam atau sesak napas
  • Bayi tetap mau menyusu dengan baik

Biasanya, frekuensi gumoh akan berkurang seiring pertumbuhan bayi, terutama setelah usia 6 bulan ketika bayi mulai duduk dan mengonsumsi MPASI.

Tanda Gumoh yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu segera berkonsultasi ke dokter apabila gumoh disertai:

  • Muntah menyemprot
  • Warna muntah hijau atau bercampur darah
  • Berat badan sulit naik
  • Bayi tampak lemas
  • Rewel berlebihan setelah menyusu
  • Sesak napas atau batuk terus-menerus
  • Demam atau tanda dehidrasi

Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan pencernaan atau masalah kesehatan lain yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Tips Mengurangi Gumoh pada Bayi

Berikut beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengurangi gumoh:

✔ Susui dalam Porsi Kecil tetapi Lebih Sering

Hindari memberi susu terlalu banyak dalam satu waktu.

✔ Pastikan Posisi Menyusu Tepat

Posisi kepala bayi sebaiknya sedikit lebih tinggi saat menyusu.

✔ Sendawakan Bayi Setelah Menyusu

Membantu mengeluarkan udara dari lambung sehingga mengurangi risiko gumoh.

✔ Hindari Mengajak Bayi Terlalu Aktif Setelah Menyusu

Tunggu sekitar 20–30 menit sebelum bayi diajak bermain atau digendong terlalu banyak gerakan.

✔ Perhatikan Dot atau Pelekatan Menyusui

Pastikan bayi tidak terlalu banyak menelan udara saat minum susu.

Kesimpulan

Gumoh pada bayi umumnya merupakan kondisi normal karena sistem pencernaan bayi masih berkembang. Selama bayi tetap aktif, nyaman, dan berat badannya bertambah baik, orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

Namun, jika gumoh terjadi berlebihan atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Karena setiap tumbuh kembang anak adalah perjalanan yang berharga, penting bagi orang tua untuk selalu memperhatikan kondisi si kecil sejak dini ????


Tentang RSIA Dedari

RSIA Dedari Kupang merupakan rumah sakit ibu dan anak yang menghadirkan layanan kesehatan bagi ibu, bayi, dan keluarga dengan pelayanan yang hangat dan profesional.

 Website: RSIA Dedari Kupang
 Instagram: @rsiadedari.kupang
 Facebook: RSIA Dedari Kupang Facebook
 TikTok: TikTok RSIA Dedari Kupang

Komentar